Nubuwwah: Mengapa Manusia Butuh Rasul?

dasar akidah-aqliyah
#nubuwwah #rasul #nabi #wahyu #muhammad #mukjizat #akidah

Mengapa Allah mengutus Rasul? Mengapa akal saja tidak cukup? Memahami keniscayaan nubuwwah, mukjizat sebagai tanda kebenaran, dan mengapa Muhammad ๏ทบ adalah Rasul terakhir

Nubuwwah: Mengapa Manusia Butuh Rasul?

Setelah kita yakin dengan keberadaan Sang Pencipta melalui pembahasan Eksistensi Khaliq, kini muncul pertanyaan yang tak kalah mendasar: Apakah manusia dibiarkan begitu saja tanpa petunjuk? Ataukah Allah mengutus seseorang untuk membimbing mereka menuju tujuan penciptaannya?

Bayangkan Anda adalah seorang nakhoda yang sedang berada di tengah samudra luas yang belum pernah Anda jelajahi. Di sekeliling Anda hanya ada cakrawala biru yang tak berujung. Tanpa sebuah kompas yang akurat atau peta yang jelas, ke arah mana Anda akan mengarahkan kemudi? Anda mungkin bisa menebak arah berdasarkan bintang, tapi bagaimana jika badai datang dan menutupi langit? Tanpa petunjuk, kapal Anda hanya akan terombang-ambing, dan persediaan energi Anda akan habis terbuang sia-sia.

Kehidupan manusia di dunia ini persis seperti pelayaran tersebut. Kita dianugerahi kapal yang hebat (tubuh dan perasaan) serta layar yang kuat (akal). Namun, tanpa โ€œKompasโ€ dari Sang Pencipta, kita tidak akan pernah tahu pelabuhan mana yang sebenarnya harus kita tuju.

Inilah pembahasan tentang Nubuwwah (kenabian)โ€”keniscayaan diutusnya para Rasul sebagai jembatan antara langit dan bumi, antara keterbatasan manusia dan Kebijaksanaan Ilahi.

Allah berfirman:

ูˆูŽุฅูู†ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุฉู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฎูŽู„ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ู†ูŽุฐููŠุฑูŒ

โ€œDan tidak ada suatu umat pun melainkan telah datang padanya seorang pemberi peringatan.โ€ (QS. Fathir: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan umat manusia tanpa petunjuk. Selalu ada Rasul yang diutus untuk membimbing mereka.


1. Hikmah di Balik Petunjuk Sang Pencipta

Mengapa kita tidak bisa membuat aturan hidup sendiri? Mengapa akal manusia tidak cukup? Sebagian orang mungkin merasa manusia modern sudah canggih dan tidak butuh petunjuk dari langit. Namun, mari kita renungkan sejenak.

A. Pandangan yang Terbatas

Kita seringkali hanya melihat apa yang ada di depan mata. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, apalagi apa yang terbaik bagi jiwa manusia dalam jangka panjang.

ุฃูŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ุทููŠูู ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุฑู

โ€œApakah (Allah) yang menciptakan tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.โ€ (QS. Al-Mulk: 14)

Hanya Sang Pencipta, yang merancang setiap lekuk perasaan dan pikiran kita, yang paling tahu aturan seperti apa yang akan membuat hidup kita harmonis.

B. Hati yang Berubah-ubah

Kepentingan pribadi, rasa takut, dan keinginan untuk berkuasa seringkali mewarnai hukum yang dibuat oleh manusia. Apa yang dianggap โ€œadilโ€ oleh satu kelompok, seringkali dianggap โ€œzalimโ€ oleh kelompok lain.

Allah berfirman tentang bahaya mengikuti hawa nafsu:

ุฃูŽููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู…ูŽู†ู ุงุชูŽู‘ุฎูŽุฐูŽ ุฅูู„ูŽูฐู‡ูŽู‡ู ู‡ูŽูˆูŽุงู‡ู

โ€œMaka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?โ€ (QS. Al-Furqan: 43)

Ketika akal tunduk pada hawa nafsu, maka yang keluar adalah pembenaran untuk kemaksiatan, bukan kebenaran yang objektif.

C. Kebutuhan akan Ketetapan

Jiwa manusia membutuhkan sesuatu yang kokoh dan tidak berubah-ubah untuk merasa tenang. Jika setiap generasi membuat aturan sendiri, maka tidak ada standar moral yang universal.

Inilah yang terjadi di masyarakat sekuler modern:

  • Satu orang bilang aborsi boleh, yang lain bilang tidak
  • Satu negara bilang euthanasia boleh, negara lain melarang
  • Satu kelompok bilang poligami zalim, kelompok lain bilang adil

Tanpa standar objektif dari Allah, kebenaran menjadi relatif. Dan ketika kebenaran relatif, maka yang kuat akan menindas yang lemah dengan โ€œkebenaranโ€ mereka.

D. Akal Tidak Bisa Menjangkau Alam Ghaib

Ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal:

  • Apa yang terjadi setelah kematian?
  • Apakah ada surga dan neraka?
  • Bagaimana bentuk amal yang diterima Allah?
  • Kapan hari kiamat terjadi?

Untuk pertanyaan-pertanyaan ini, kita butuh informasi dari Allahโ€”dan itulah fungsi wahyu yang dibawa oleh Rasul.


2. Solusi Allah: Mengutus Rasul

Karena akal tidak cukup, Allah dalam Hikmah-Nya mengutus para Rasul dari kalangan manusia sendiri. Mereka adalah manusia pilihan yang menerima Wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia.

ุฑูุณูู„ู‹ุง ู…ูุจูŽุดูู‘ุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ุฐูุฑููŠู†ูŽ ู„ูุฆูŽู„ูŽู‘ุง ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุญูุฌูŽู‘ุฉูŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฑูู‘ุณูู„ู

โ€œ(Mereka Kami utus) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) rasul-rasul itu.โ€ (QS. An-Nisaโ€™: 165)

Ayat ini menunjukkan bahwa dengan diutusnya Rasul, tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk berkata: โ€œKami tidak tahu!โ€ atau โ€œKami tidak diberi petunjuk!โ€

Rasul adalah pembawa โ€œKompasโ€ dan โ€œPetaโ€ tersebut agar kita tidak tersesat di tengah rimba kehidupan.

Analogi Sang Arsitek dan Panduan Penggunaan

Bayangkan seorang arsitek jenius yang menciptakan sebuah mesin yang sangat rumit dan canggih. Mesin tersebut ia rancang dengan fungsi yang sangat spesifik: untuk mengolah data, menghitung, dan menghasilkan output yang bermanfaat.

Sekarang, apakah masuk akal jika sang arsitek menyerahkan mesin itu kepada penggunanya tanpa manual book, tanpa panduan, tanpa instruksi? Tentu tidak. Sang arsitek pasti menyertakan panduan penggunaan yang menjelaskan:

  • Untuk apa mesin itu dibuat
  • Bagaimana cara mengoperasikannya dengan benar
  • Apa yang harus dihindari agar mesin tidak rusak
  • Apa konsekuensi jika mesin digunakan sembarangan

Manusia jauh lebih mulia dan lebih rumit daripada mesin apa pun. Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang agung: untuk beribadah kepada-Nya. Maka, apakah masuk akal jika Allah membiarkan manusia tanpa panduan, tanpa petunjuk, tanpa seseorang yang menjelaskan bagaimana seharusnya mereka hidup?

Mustahil. Ini bertentangan dengan Hikmah dan Kasih Sayang Allah.

Allah berfirman:

ุฃูŽููŽุญูŽุณูุจู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุนูŽุจูŽุซู‹ุง ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู„ูŽุง ุชูุฑู’ุฌูŽุนููˆู†ูŽ

โ€œMaka apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?โ€ (QS. Al-Muโ€™minun: 115)


3. Rasul: Manusia yang Membawa Cahaya

Tuhan tidak mengirimkan petunjuk-Nya melalui suara dari langit yang terdengar oleh setiap telinga. Ia memilih seorang manusia dari antara kita sendiri untuk menjadi Rasul. Mengapa demikian?

A. Teladan Nyata

Jika petunjuk itu dibawa oleh malaikat, kita mungkin akan berkata, โ€œTentu saja dia bisa taat, dia kan malaikat.โ€ Namun, ketika Rasul adalah seorang manusia yang juga merasakan lapar, sedih, dan lelah, kita sadar bahwa mengikuti aturan Tuhan adalah hal yang mungkin dilakukan.

Allah berfirman:

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ

โ€œSungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Rasulullah.โ€ (QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah ๏ทบ adalah uswah hasanah (teladan yang baik) karena beliau mengalami apa yang kita alami:

  • Beliau lapar seperti kita
  • Beliau lelah seperti kita
  • Beliau sedih seperti kita
  • Beliau menghadapi godaan seperti kita

Tetapi beliau selalu memilih yang benar. Inilah yang membuat beliau bisa diteladani.

B. Penerjemah Kasih Sayang

Rasul bukan sekadar pembawa pesan tertulis. Ia adalah perwujudan nyata dari kasih sayang Sang Pencipta. Melalui tindakannya, kita belajar bagaimana mencintai, bagaimana berkorban, dan bagaimana berdiri tegak membela kebenaran.

Ketika Rasulullah ๏ทบ ditanya tentang akhlak, beliau bersabda:

ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุจูุนูุซู’ุชู ู„ูุฃูุชูŽู…ูู‘ู…ูŽ ู…ูŽูƒูŽุงุฑูู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ู„ูŽุงู‚ู

โ€œSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.โ€ (HR. Baihaqi)

Melalui Rasulullah ๏ทบ, kita belajar:

  • Bagaimana memaafkan musuh (seperti saat Fathu Mekah)
  • bagaimana menyayangi anak kecil
  • Bagaimana menghormati wanita
  • Bagaimana berdagang dengan jujur
  • Bagaimana memimpin dengan adil

C. Mengapa Bukan Malaikat?

Allah mengutus Rasul dari jenis manusia sendiriโ€”bukan malaikatโ€”karena:

1. Bisa Dipahami Manusia lebih mudah memahami ajaran dari sesama manusia daripada dari makhluk yang berbeda jenis (malaikat).

Ketika Rasulullah ๏ทบ berbicara, sahabat bisa bertanya langsung, bisa melihat bagaimana beliau menerapkan ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tidak Memberatkan Jika yang diutus adalah malaikat, manusia akan merasa terbebani karena tidak mampu meneladani makhluk yang tidak punya hawa nafsu, tidak makan, tidak tidur, tidak menikah.

Allah berfirman:

ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุจูŽุดูŽุฑูŒ ู…ูุซู’ู„ููƒูู…ู’ ูŠููˆุญูŽู‰ูฐ ุฅูู„ูŽูŠูŽู‘

โ€œKatakanlah: Aku hanyalah manusia seperti kamu, diwahyukan kepadakuโ€ฆโ€ (QS. Al-Kahfi: 110)

Rasulullah ๏ทบ adalah manusia seperti kitaโ€”bedanya hanya satu: beliau menerima wahyu.


4. Menemukan Tanda Kebenaran: Mukjizat para Rasul

Akal kita tentu bertanya: โ€œBagaimana kita tahu bahwa seseorang benar-benar utusan Tuhan?โ€

Tuhan membekali para Rasul dengan Mukjizatโ€”sebuah tanda yang melampaui segala hukum alam, sebuah stempel yang tidak mungkin dipalsukan oleh penyihir atau ilmuwan mana pun.

Mukjizat Para Rasul Terdahulu

Setiap Rasul diberi mukjizat yang sesuai dengan zamannya:

  • Nabi Musa โ€˜alaihissalam: Tongkat yang bisa menjadi ular, tangan yang bersinar putih. Ini mukjizat yang relevan di era Firaun yang ahli sihir.
  • Nabi Isa โ€˜alaihissalam: Menyembuhkan orang buta, menghidupkan orang mati. Ini relevan di era yang penuh dengan penyakit dan tabib.
  • Nabi Ibrahim โ€˜alaihissalam: Tidak terbakar oleh api. Ini relevan di era penyembahan berhala dan api.

Mukjizat Muhammad ๏ทบ: Al-Qurโ€™an

Bagi Nabi Muhammad ๏ทบ, Allah memberikan mukjizat yang kekal abadiโ€”Al-Qurโ€™an.

ุณูŽู†ูุฑููŠู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชูู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุขููŽุงู‚ู ูˆูŽูููŠ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ูฐ ูŠูŽุชูŽุจูŽูŠูŽู‘ู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘

โ€œKami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qurโ€™an itu adalah benar.โ€ (QS. Fussilat: 53)

Mengapa Al-Qurโ€™an adalah mukjizat abadi?

  1. Tidak bisa ditiru: Allah menantang manusia dan jin untuk membuat satu surat seperti Al-Qurโ€™anโ€”dan tidak ada yang mampu hingga hari ini.
  2. Terjaga keasliannya: Tidak ada perubahan selama 1400+ tahun.
  3. Ilmiah: Banyak ayat yang baru terbukti kebenarannya oleh sains modern.
  4. Universal: Untuk semua zaman, semua tempat, semua manusia.

Bagi kita hari ini, tanda itu tetap hidup dan bisa kita uji sendiri di dalam lembaran-lembaran Al-Qurโ€™an. Pelajari lebih lanjut di Mukjizat Al-Qurโ€™an.


5. Siapa Saja Para Rasul Itu?

Allah mengutus banyak Rasul sepanjang sejarah. Sebagian disebutkan namanya dalam Al-Qurโ€™an, sebagian tidak:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุง ุฑูุณูู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุตูŽุตู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ู†ูŽู‚ู’ุตูุตู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ

โ€œDan sungguh, telah Kami utus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antaranya ada yang telah Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada yang belum.โ€ (QS. Ghafir: 78)

Rasul yang Disebutkan dalam Al-Qurโ€™an (25 Nabi)

NamaKitabKaumMukjizat Utama
Adam-Manusia pertamaPenciptaan tanpa ayah-ibu
Nuh-Kaum NuhBahtera, banjir besar
IbrahimSuhufBabiloniaTidak terbakar api
MusaTauratBani IsraelTongkat, laut terbelah
IsaInjilBani IsraelMenghidupkan orang mati
MuhammadAl-Qurโ€™anSeluruh manusiaAl-Qurโ€™an

Semua membawa ajaran yang sama: Tauhid (mengesakan Allah). Bedanya hanya pada syariat detail yang disesuaikan dengan zaman dan kaum mereka.


6. Mengapa Muhammad ๏ทบ adalah Rasul Terakhir?

Allah telah mengutus banyak Rasul sepanjang sejarah. Namun, semua risalah sebelumnya bersifat lokal (untuk kaum tertentu) dan sementara (hingga datang risalah berikutnya).

Muhammad ๏ทบ diutus dengan karakteristik yang unik yang tidak dimiliki Rasul sebelumnya.

A. Risalah Universal

Risalah Muhammad ๏ทบ bukan untuk suku tertentu, bangsa tertentu, atau era tertentu. Ia untuk seluruh manusia hingga hari kiamat.

ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ูู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

โ€œDan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.โ€ (QS. Al-Anbiyaโ€™: 107)

ู‚ูู„ู’ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง

โ€œKatakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua.โ€ (QS. Al-Aโ€™raf: 158)

Inilah mengapa Islam tersebar ke seluruh duniaโ€”dari Indonesia hingga Maroko, dari Tiongkok hingga Afrikaโ€”karena risalah Muhammad ๏ทบ memang untuk semua.

B. Kitab yang Terjaga

Al-Qurโ€™an yang dibawa Muhammad ๏ทบ adalah satu-satunya kitab samawi yang Allah jamin keasliannya hingga akhir zaman.

ุฅูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽุญู’ู†ู ู†ูŽุฒูŽู‘ู„ู’ู†ูŽุง ุงู„ุฐูู‘ูƒู’ุฑูŽ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ุง ู„ูŽู‡ู ู„ูŽุญูŽุงููุธููˆู†ูŽ

โ€œSesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qurโ€™an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.โ€ (QS. Al-Hijr: 9)

Kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, Injil) telah mengalami perubahan dan penambahan oleh tangan manusia. Al-Qurโ€™an tidakโ€”ia terjaga keasliannya selama 1400+ tahun, huruf demi huruf.

C. Penutup Para Nabi

Muhammad ๏ทบ adalah Khatamul Anbiyaโ€”penutup para Nabi dan Rasul. Setelah beliau, tidak ada lagi syariat baru, tidak ada lagi wahyu hukum, tidak ada lagi rasul.

ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŒ ุฃูŽุจูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ ุฑูุฌูŽุงู„ููƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูฐูƒูู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฎูŽุงุชูŽู…ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ูŠู†ูŽ

โ€œMuhammad itu bukanlah bapak dari siapa pun di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.โ€ (QS. Al-Ahzab: 40)

Siapa yang mengaku nabi setelah Muhammad ๏ทบ, maka ia adalah pendusta. Siapa yang mengikuti klaim tersebut, maka ia telah keluar dari Islam.

Inilah mengapa Islam sempurna dan tidak butuh tambahan:

  • Tidak butuh โ€œnabi baruโ€
  • Tidak butuh โ€œkitab baruโ€
  • Tidak butuh โ€œsyariat baruโ€

Semua sudah lengkap dalam Al-Qurโ€™an dan Sunnah Rasulullah ๏ทบ.


7. Konsekuensi Logis dari Keyakinan Ini

Jika kita telah yakin bahwa Muhammad ๏ทบ adalah Rasul Allah yang terakhir, maka ada konsekuensi yang harus diambil.

A. Menerima Seluruh Ajarannya

Kita tidak bisa memilih-milih: menerima yang sesuai dengan akal atau hawa nafsu kita, menolak yang tidak sesuai.

Seorang pasien yang datang ke dokter tidak bisa memilih-milih obat yang ia mau. Ia harus menerima resep dokter secara keseluruhan, karena dokter lebih tahu tentang penyakit dan obatnya.

Demikian pula dengan ajaran Rasul. Kita menerima semuanya, karena Rasul lebih tahu tentang tujuan penciptaan kita dan bagaimana seharusnya kita hidup.

Allah berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฏู’ุฎูู„ููˆุง ูููŠ ุงู„ุณูู‘ู„ู’ู…ู ูƒูŽุงููŽู‘ุฉู‹

โ€œWahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam (silm) secara keseluruhan.โ€ (QS. Al-Baqarah: 208)

Kaffah = secara keseluruhan, tidak setengah-setengah.

B. Menjadikannya Satu-satunya Sumber Hukum

Dalam kehidupanโ€”baik urusan pribadi, keluarga, ekonomi, politik, hukumโ€”kita merujuk pada apa yang dibawa Muhammad ๏ทบ.

Ini adalah konsekuensi dari syahadat La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Kita tidak bisa mengaku beriman lalu mengambil hukum dari sistem buatan manusia yang bertentangan dengan Islam.

ูˆูŽู…ูŽุง ุขุชูŽุงูƒูู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ู ููŽุฎูุฐููˆู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽุงูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ู ููŽุงู†ู’ุชูŽู‡ููˆุง

โ€œApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.โ€ (QS. Al-Hasyr: 7)

C. Menyampaikan kepada Orang Lain

Setelah kita mengetahui kebenaran ini, kita punya tanggung jawab untuk menyampaikannyaโ€”sesuai dengan kemampuan dan posisi kita.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุจูŽู„ูู‘ุบููˆุง ุนูŽู†ูู‘ูŠ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุขูŠูŽุฉู‹

โ€œSampaikanlah dariku walaupun satu ayat.โ€ (HR. Bukhari)

Ini bukan berarti semua harus jadi dai profesional. Tapi setidaknya:

  • Mengajarkan ke keluarga
  • Berbagi ilmu di media sosial
  • Mendukung dakwah dengan harta
  • Menjadi teladan dalam akhlak

Kesimpulan

Membutuhkan Rasul adalah tanda bahwa kita menyadari keterbatasan kita sebagai manusia. Seperti benih yang membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh menjadi pohon yang kokoh, jiwa manusia membutuhkan bimbingan Rasul untuk tumbuh menjadi pribadi yang mulia.

Nubuwwah adalah keniscayaan logis dari keberadaan Allah dan tujuan penciptaan manusia. Tanpa Rasul, manusia akan tersesat, bingung tentang tujuan hidupnya, dan saling bertikai dalam menentukan apa yang benar dan salah.

Allah, dalam Hikmah dan Kasih Sayang-Nya, telah mengutus Muhammad ๏ทบ sebagai Rasul terakhir dengan risalah yang universal dan abadi. Mengimani beliau adalah konsekuensi dari mengimani Allah.

Rasul adalah jembatan hangat yang menghubungkan keterbatasan kita dengan kesempurnaan petunjuk Sang Pencipta. Setelah kita meyakini ini, langkah selanjutnya adalah memahami mengapa Al-Qurโ€™an yang dibawa Muhammad ๏ทบ adalah mukjizat abadi yang membuktikan kebenaran risalahnya. Pelajari lebih lanjut di Mukjizat Al-Qurโ€™an.


Materi Terkait: